Dilatih Bisnis Out of The Box, UMKM Priangan Dipacu Naik Kelas

Dilatih Bisnis Out of The Box, UMKM Priangan Dipacu Naik Kelas

- in News In Brief

Pangandaran – Selang sehari sejak Perjanjian Kerja Sama tentang Pembinaan UMKM melalui Rumah Kreatif BUMN (RKB) antara Ditjen Pajak dan Bank Himbara ditandatangani, BNI menjadi bank yang paling awal menyelenggarakan pelatihan UMKM sebagai realisasi perjanjian kerja sama tersebut.

Pelatihan yang dihadiri oleh Kepala BNI Kantor Cabang Utama Banjar Ichlas Rusnanto dan sekitar 150 pengusaha UMKM yang tergabung dalam RKB Pangandaran, kelolaan BNI ini dilaksanakan di Pantai Barat, Pangandaran, Jawa Barat, Kamis (1/11).

“Kerjasamanya baru ditandatangani kemarin, tapi hari ini pelatihan sudah langsung dilaksanakan, BNI sangat responsif. Dan, BNI lah yang pertama menyelenggarakan palatihan. Kalau usaha jalan dan maju maka bank pun akan menyerap tabungan lebih banyak,” ujar Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KKP) Ditjen Pajak Ciamis, Erry S Dipawingun, saat sambutan pembuka dalam acara pelatihan bertajuk “Berbisnis Out of The Box di Era Global”.

Corporate Secretary BNI Kiryanto mengatakan, pelatihan yang merupakan bentuk kerjasama antara Ditjen Pajak dan bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) ini benar-benar menjadi pemicu bagi para pelaku UMKM untuk naik kelas, dari kecil ke menengah, dan pengusaha menengah menjadi besar.

Dimana, DJP sendiri memiliki unit kerja Business Development Services yang . memberikan pelatihan bagi UMKM, dengan menghadirkan pembicara kompeten dan pengusaha sukses untuk sharing kepada UMKM lainnya.

Kiryanto menambahkan, pelatihan ini merupakan upaya BNI untuk berpartisipasi dalam pembangunan di daerah yang spesifik, seperti kawasan Priangan Timur yang mencakup Ciamis, Banjar, dan Pangandaran. BNI tidak hanya melayani transaksi masyarakat namun membantu nasabah dan debitur untuk mengakses teknologi yang dibutuhkan dalam mengembangkan bisnisnya.

BNI selalu mengikuti perkembangan teknologi agar semakin memudahkan transaksi perbankan. Dengan teknologi, masyarakat akan semakin mengurangi frekuensinya dalam mengunjungi kantor cabang yang terbatas jam operasional. Nasabah BNI dapat dengan mudah mengakses layanan transaksi keuangan 24 jam melalui telepon genggam.

“Ini adalah berbisnis yang diluar kebiasaan, tidak hanya menunggu pembeli datang, tetapi aktif menawarkan produk. Untuk itu, kami ajak pihak Google guna menjelaskan caranya,” ungkap Kiryanto.

Sementara itu, Ichlas Rusnanto menyebutkan, portofolio kredit BNI di sektor UMKM terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hingga Semester I-2018, total kredit Kantor Cabang BNI Banjar, mencapai sekitar Rp200 miliar atau meningkat 100% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. “Porsi pembiayaan UMKM sendiri mencapai 20% dari total kredit tersebut,” imbuhnya.

Disambut Antusias

Peserta mengikuti pelatihan hingga usai seluruh sesi. Dengan menggunakan perangkat telepon genggam cerdas mereka mengaplikasikan dua perangkat pemasaran online yang disampaikan pembicara.

Pada sesi pertama, pembicara dari Ditjen Pajak memberikan pelatihan mengenai penggunaan aplikasi Pelaporan Akuntansi Khusus UMKM yang dapat digunakan secara offline. Aplikasi ini memungkinkan pengusaha UMKM mencatatkan perkembangan keuangannya dalam bisnis secara mudah dengan telepon genggamnya.

Selanjutnya pada sesi kedua, pembicara dari Gapura Digital menjelaskan cara menajamkan marketing melalui perangkat-perangkat Google. Mereka memandu tahap demi tahap peserta pelatihan untuk mendaftarkan bisnisnya ke aplikasi yang dapat menjangkau halaman teratas mesin pencari Google, yaitu aplikasi Google Bisnisku.

Salah seorang peserta yang juga produsen Mie Lidi “Mih Iteung”, Risma Natasya Marifha mengaku dapat banyak manfaat dari keikutsertaannya dalam pelatihan tersebut. Selama ini dirinya telah melakukan pemasaran produk baik secara konvensional maupun online, hanya saja masih belum maksimal.

Risma berharap, setalah mengetahui strategi pemasaran melalui google business, salah satu materi yang dipaparkan dalam pelatihan tersebut dapat mengoptimalkan aktivitas penjualan online. Sebab, volume transaksi dari kegitan pemasaran konvensional melalui jaringan ritel masih lebih tinggi dibanding online. Saat ini, total omset penjualan Mie Lidi buatannya mencapai rata-rata Rp40 juta per bulan.

“Omset penjualan konvensional sebesar 60% dan sisanya didapat melalui online. Saya heran, kenapa hal ini bisa terjadi? Untuk menjawab rasa penasaran itu, saya ikut serta dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh Kantor BNI Cabang Utama Banjar dan KPP Ditjen Pajak Ciamis, hari ini,” pungkas Risma.

Facebook Comments