BI: Perbankan RI ‘Kebal’ Gejolak Dolar AS

BI: Perbankan RI ‘Kebal’ Gejolak Dolar AS

- in Analysist

Yogyakarta – Bank Indonesia (BI) menyebut kondisi perbankan nasional saat ini sangat kuat jika dibandingkan dengan periode 20 tahun lalu.

Deputi Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Ita Rulina menjelaskan perbankan nasional kebal meskipun terjadi gejolak pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu.

Misalnya, pada kuartal IV tahun lalu nilai tukar rupiah sempat melemah hingga Rp15.000 per dolar AS. Saat ini nilai tukar dolar AS berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) masih tercatat di level Rp14.157. “Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pergerakan yang cukup volatile,” ujar Ita, saat Pelatihan Wartawan Ekonomi dan Moneter di Hotel Marriot, Yogyakarta, Sabtu (23/3).

Menurut dia, rupiah memang sempat bergejolak pada 2018 lalu hingga menyentuh kisaran Rp15.000-an namun kembali menguat pada awal tahun ini. Ita menjelaskan hal tersebut terjadi karena nilai tukar rupiah sudah kembali stabil di kisaran Rp14.100 – Rp 14.200 per dolar AS. Selain itu kondisi permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) bank tidak mengalami penurunan.

“Banyak bank yang belajar dari masa krisis moneter pada 1998 dan 2008 lalu. Perbankan menjaga sekali modalnya supaya CAR tidak turun, ini pengalaman masa krisis yang dihantam terparah 1998 dan 2008,” imbuh Ita.

Data bank sentral menunjukkan, per Januari 2019, perbankan memiliki permodalan yang kuat. Rasio CAR yang relative tinggi di level 23,12%, meningkat dibanding pada bulan Desember 2018 lalu. Adapun berdasarkan kelompok bank, tingginya CAR perbankan didominasi Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) III dan BUKU II. Secara umum, seluruh kelompok bank memiliki CAR di atas threshold.

Sementara itu Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Rian Kiryanto menjelaskan pelemahan kurs Rp terjadi karena aliran modal asing terus masuk ke Indonesia. Namun aliran modal ini tidak sederas di negara lain.

“Makanya rupiah sulit menguat signifikan. Jika dilihat dari aliran modal asing langsung yang masuk, Indonesia hanya 2% ke 2,1% terhadap produk domestik bruto (PDB), jauh dari negara lain,” kata Ryan.

Ryan mencontohkan di Thailand, dana asing masuk ke negaranya mencapai 2,5% terhadap PDB di tahun lalu, meningkat dari 2017 yang hanya 1,8% terhadap PDB. Begitu juga dengan Vietnam yang aliran asing masuk ke negaranya mencapai 6,5% terhadap PDB di 2018, meningkat dari tahun sebelumnya 6,5% terhadap PDB.

Negara yang dana asingnya turun hanya Malaysia, yakni dari 3,0% di 2017 menjadi 2,1% di 2018. “Tetangga itu membesar juga. Kita harusnya bisa lebih besar, kita sudah investment grade, harusnya lebih besar dari ini,” jelasnya.

Meski demikian, Ryan menuturkan masih ada sejumlah permasalahan di ekonomi Indonesia, salah satunya ekspor dan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Adapun CAD Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai USD31,1 miliar arau 2,98% terhadap PDB.

Bank sentral sebelumnya mencatat, dana asing masuk ke Indonesia sejak awal tahun ini hingga 6 Maret 2019 mencapai Rp59,9 triliun. Aliran tersebut masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp50,2 triliun dan saham sebesar Rp10,5 triliun. Sementara itu aliran modal asing yang masuk di tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Facebook Comments