Apartemen di Kota Hujan Favorit Warga Ibukota

Apartemen di Kota Hujan Favorit Warga Ibukota

- in Analysist

Bogor – Kemudahan, kenyamanan hidup serta investasi menjanjikan adalah tiga dari sederet keuntungan yang ditawarkan hunian apartemen di kawasan Bogor, Jawa Barat.

Seperti diketahui, sejak zaman Penjajahan Belanda, kawasan Bogor, Jawa Barat kerap dijadikan sebagai tempat peristirahatan favorit oleh sebagian kalangan masyarakat lantaran kesejukan udara serta keindahan panorama pengunungannya. Kondisi ini menjadi peluang tersendiri bagi property developer untuk mengepakkan sayap bisnisnya di wilayah tersebut.

Maka tak heran, bila pembangunan resor, hotel, dan perumahan dengan ‘bumbu’ jualan, kawasan yang memiliki kesejukan serta keindahan panorama alamnya semakin marak di ‘Kota Hujan’. Bahkan, sejak lima tahun silam banyak pengembang properti menawarkan hunian vertikal atau apartemen.

Dalam kurun waktu itu, sedikitnya terdapat sekitar 40 proyek apartemen yang dibangun oleh developer skala besar maupun kecil di Kabupaten dan Kota Bogor. Namun amat disayangkan, pengembangan bisnis apartemen pada dua kawasan itu tak semulus wilayah lain di Jabodetabek. Daya serapnya pun jauh lebih rendah dibanding, Jakarta, Tangerang, Baten, bahkan Depok.

Kondisi tersebut bisa dimaklumi, mengingat area pengembangan hunian tapak di Kabupaten dan Kota Bogor tergolong masih luas, ditambah kultur mayoritas masyarakatnya yang merasa lebih nyaman tinggal di hunian tapak ketimbang apartemen. Selain itu mereka meyakini bahwa hak atas kepemilikan tanah pada rumah tapak lebih jelas, sementara hunian jangkung dianggap hanya membeli ‘angin’.

Direktur Marketing Be Residence Tri Sutedy meluruskan anggapan keliru sebagian masyarakat Bogor tersebut. Menurutnya, ketika ditelaah secara seksama dan mendalam justru banyak keuntungan yang bisa diperoleh konsumen saat membeli apartemen.

“Bayangkan, hanya membeli sepetak lahan (sekitar 24 meter persegi) dengan harga sama bahkan lebih murah pada apartemen, tapi masyarakat bisa menikmati sederet fasilitas yang membuat aktivitas keseharian lebih praktis, aman dan nyaman,” ujarnya kepada Indonesia Housing, di Bogor, belum lama ini.

Kok bisa? Bisa saja, sebab sejatinya memiliki apartemen bukan sekedar membeli sepetak bangunan vertikal dengan desain serta interior bangunan apa adanya. Lebih dari itu, setiap masyarakat atau pembeli secara otomatis memiliki hak atas berbagai fasilitas dalam kawasan bagi kemudahan dan kenyaman hidup maupun kebutuhan investasi.

Tri Sutedy mencontohkan, Apartemen Be Residence, di Jl. Malabar No. 1, Bogor Tengah, Kota Bogor menawarkan berbagai fasilitas modern dengan layanan hotel bintang empat. Antara lain swimming pool, executive sky café, gym and fitness, children’s playground, ballroom, dan meeting rooms.

“Ini merupakan keuntungan yang belum tentu dimiliki kawasan hunian tapak. Menariknya, sederet fasilitas tersebut bisa dinikmati oleh penghuni secara bebas dan gratis tanpa harus repot-repot keluar kawasan. Kondisi ini tentu akan menambah kehidupan penghuni semakin berkualitas, parktis, aman, dan nyaman,” ungkapnya.

Keuntungan lain tinggal di Apartemen Be Residence adalah lokasinya strategis, berada di tengah-tengah kota serta akses yang mudah karena punya jalan langsung ke exit Tol Jagorawi dan dekat ke pusat transportasi umum (Terminal Baranangsiang, Shelter Trans Pakuan, Pool Bus Damri, dan Terminal LRT).

Bukan hanya itu, hunian jangkung yang dibesut oleh Propindo Land tersebut juga hanya selangkah ke obyek wisata Kebun Raya Bogor, sebagai icon Kota Bogor. Bahkan, dekat ke tempat wisata kuliner Jalan Surya Kencana, dengan aneka jajanan nan lezat seperti Makaroni Panggang, Roti Unyil, Klapertart Huize, Apple Pie, dan Lapis Talas Bogor.

Diakui Tedy – sapaan akrabnya – sebagian masyarakat Kota Bogor memang masih punya anggapan miring terhadap hunian apartemen. Karenanya, hingga kini pasar hunian vertikal di Kabupaten dan Kota Bogor masih cenderung stagnan. Ini merupakan tantangan tidak mudah yang harus dijawab oleh pengembang apartemen.

“Untuk mengubah mindset masyarakat butuh waktu panjang dan edukasi yang kontinu. Namun begitu, seiring perjalanan waktu saya optimis bahwa pola pikir masyarakat akan berubah dengan sendirinya. Kami memandang, kolaborasi dengan media sangat penting guna mengakselerasi edukasi bagi masyarakat,” ucap Tedy.

Bergerak Dinamis

Pasar properti di wilayah Kota Bogor secara umum menunjukkan perubahan yang cukup menarik untuk disimak. Tidak hanya pangsa rumah tapak, segmen hunian vertikal pun bergerak aktif. Lihat saja, property index pada kuartal pertama (Q1)-2018, median harga properti di kawasan penyangga tersebut berada pada angka Rp5.830.000 per meter persegi atau di titik 96,04.

Harga ini mengalami kenaikan sebesar 1,5% dibanding Q4-2017 yang hanya menorehkan indeks di titik 94,5. Dimana setelah sebelumnya indeks harga sempat melejit hingga titik 99,5 di Q3 2017 dan 97,6 di Q2 2017. Sementara secara year-on-year (y-o-y), indeks harga terkini lebih rendah dibandingkan kuartal pertama tahun lalu dimana tercatat berada pada titik 97,1.

Khusus pangsa apartemen di Bogor, gencarnya pembangunan infrastruktur menjadi salah satu faktor yang berkontribusi tinggi bagi sektor tersebut. Diantaranya pembangunan LRT menuju Kota Bogor (saat ini mencapai Cibubur), pemekaran wilayah menjadi Bogor Barat dan Bogor Timur, Tol Bogor Outer Ring Road (BORR), serta rencana bandara komersial Atang Sanjaya Bogor.

Facebook Comments